Minggu, 19 Mei 2013

Pengalaman "EMAS" dari Jerman (2) : Jakarta - Dubai - Munich


Orang-orang DPO Bandara Soekarno Hatta hehe
 Setelah mengecek Imigrasi sekitar pukul 10.00 WIB kami menunggu sekitar 2 jam untuk check in ke petugas Emirates Kami terlihat santai dan sedikit kelelahan karena hari itu kami memang selesai mengikuti perkuliahan dan seminar yang padat. Kami terlihat mengobrol dan berfoto-foto sejenak menghilangkan penat dan letih di ruang tunggu. Ga bisa ngebayangin gimana rasanya budaya di sana gimana yah. Ya yang penting alhamdulilah banget saya dan rekan-rekan dapat mengunjungi Jerman nanti, dibalik rasa letih kami sering bercanda ya seperti ini muka-muka DPO polisi eh maksudnya foto orang-orang gantenh hehehe ---->




Suasana Lebaran, eh maksudnya di Pesawat menuju Dubai
Pesawat Emirates kami bernomor penerbangan EK 359 dengan spesifikasi pesawat Boeing 777-300ER JET  lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta Terminal 2 sekitar pukul 00.15 WIB untuk menuju Bandara Internasional Dubai dengan jarak tempuh  sekitar 4080 Mil (Jalan kaki gempor nih – kalo naik becak kita dsuruh gowes sendiri ama abangnya) atau dengan waktu tempuh 8 jam 15 menit.  Yaaaa yang lain pada tidur kami lepas landas di pesawat ya..mmmmm, saya mendapatkan nomor kursi di Zona “H” bernomor kursi 14 E, Selama mengudara kami melepaskan penat dengan menonton film atau mendengarkan mp4, di setiap kursi terdapat layar  seperti Ipad untuk hiburan para penumpang. Saya menonton film “Avengers” , “The Raid” dan lainnya. Tidur melek merem bangun berulang-ulang. Kalo melek ya pas makan minum. Suasana di dalam pesawat seperti ini nih .




Bis Bandara Dubai, Uni Emirate Arab

Sekitar Pukul 02.00  WIB dinihari ketika pesawat mengudara di atas pulau Sumatera, Pramugara dan Pramugari yang orang Arab itu memberikan snack seperti roti, biskuit dan minuman. Perlu diketahui setiap penerbangan di pesawat ini kami diberikan 2 kali servis makan dari maskapai tersebut. Menu yang disajikan bervariasi mulai dari ayam sampai ikan kod dengan ciri khas masakan Turki maupun Eropa. Karena memang berangkat dini hari saya memutuskan untuk melepaskan penat dengan beristirahat dengan memejamkan mata. Kadang terbangun melihat peta perjalanan pesawat yang melintasi Pulau Sumatera , lalu Srilangka , India, lalu memasuki Timur Tengah kemudian mendarat di Dubai, Uni Emirat Arab sekitar pukul 05.30  waktu Dubai di Terminal 3. Kali ini saya salah memilih jus jeruk yang rasanya murni jeruk, membuat perut saya seperti ada paduan suara. Perbedaan waktu antara Dubai sekitar 3 jam lebih lambat dari Jakarta. Setelah turun dari Pesawat, saya berpikiran akan hawa panas karena ciri khas daerah Timur Tengah, tetapi hawa di sana sama seperti di Jakarta. Setelah turun saya dan rekan-rekan menaiki bis untuk dibawa ke cek imigrasi Dubai International Airport. Bis di Bandara di Dubai seperti ini, beda banget ama bis Damri punya bandara Soekarno Hatta.

 

 

Taman Langit eh maksudnya Taman di dalam Bandara Dubai.
Kemudian kami setelah turun segera cek Imigrasi, barang-barang bawaan kami yang masuk kabin pesawat di Cek. Kecuali koper yang masuk bagasi pesawat sudah direct sehingga langsung di pindah ke pesawat yang dituju. Kami merasakan kota Dubai sangat sibuk dan terlihat dari bandara banyak mobil-mobil seperti di Jakarta dan terlihat menara Burj Khalifa, Salah satu menara tertinggi di dunia. Ketinggian pencakar langit ini adalah 828 meter, diresmikan 4 Januari 2010. Terdapat kereta bandara juga menambah kepadatan transportasi di Dubai. Uniknya di sini tidak tampak kemacetan di sekitar Bandara. Bandara ini memang unik karena dalam sejarahnya bandara Dubai ini termasuk bandara tersibuk dan terpadat di dunia. Bandara ini tidak pernah sepi, bisa diprediksi perputaran uang di Dubai berapa banyak yah.  Ada mall di dalam bandara ini kemudian terdapat taman-taman yang membuat suasana bandara semakin asri.

Setelah berfoto-foto kemudian berbincang ngalor ngidul kami menunggu pesawat kami yang menuju Munich di depan Gate nomor 23 kemudian di cek Boarding pass dan paspor kami :


Boarding Pass Dubai - Munich

GATE 23 Terminal 3 Bandara Dubai UAE
 



Narsis dikit depan pesawat, agak gelap tapi masa depan yang foto insya alloh terang,amin.

Narsis banyak di deket kaca

 Setelah pukul 09.05 waktu Dubai, kami menaiki pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK 049 dengan spesifikasi pesawat Airbus A380-800 JET dengan jarak tempuh 42840 Mil dengan waktu tempuh 6 jam 35 menit, pesawat ini lebih besar dari pesawat Boeing yang kami gunakan dari Jakarta menuju Dubai. 

Pesawat dari Dubai menuju Munich

Pesawat ini sempat delay 15 menit karena menunggu penumpang sekeluarga yang terlambat. Ternyata orang-orang Arab bisa juga terlambat. saya mendapat tempat duduk duduk di Zona F bernomor kursi 47 E. Suasana di dalam pesawat ini sedikit lengang banyak terdapat kursi kosong sehingga kami bisa selonjor tidur-tiduran. Begini nih suasana pesawatnyaa pas ada servis foto diambil dari kameramen profesional saudara Riski.

 
Suasana Pesawat menuju Munich

 Setelah makan minum ngrumpi di dalam pesawat, sempat beser juga karena pesawat dingin. Gimana di Jerman nanti ya saya sudah tidak sabar untuk menginjakkan kaki di Jerman nanti. huuuuuuuu ga sabarrr. Setelah 7 jam perjalanan kami akhirnya tiba di negara kelahiran Jurgen Habermas. Kota Munich menyambut kedatangan kami dengan hujan sekitar pukul 12.00 waktu Munich. Tambah dinginnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn nihhh di Jerman. Alhamdulilah akhirnya perjalanan Jakarta menuju Munich berjalan lancar dan sukses kami bersiap menghadapi angin yang menusuk pada musim gugur (autumn) ini. Bakal kangennn dengan suasanan ini nanntinyaa.

 

Bandara Internasional Munich Jerman

 

 BERSAMBUNG coy .....


Sabtu, 22 Desember 2012

Article about Study Visit UNJ to PH Ludwigsburg (Article In German)


Thursday, December 20, 2012

15. bis 17. November 2012: Besuch indonesischer Studentengruppe in der Abteilung Kultur- und Medienbildung
Umfangreiches Programm für Gäste aus Südostasien



Auf Einladung von Stephan Buchloh, dem Leiter der Abteilung Kultur- und Medienbildung, sind zehn Studentinnen und Studenten der State University of Jakarta (UNJ), Indonesien, im November für drei Tage zu Gast in der Pädagogischen Hochschule Ludwigsburg. Auf dem Programm stehen unter anderem Gespräche mit Hochschulvertretern und mit deutschen Studierenden, ein Seminarbesuch, ein Filmgespräch, eine von Studentinnen organisierte Stadtführung durch Ludwigsburg und ein Besuch bei der „Stuttgarter Zeitung“.

Eine Studienreise, die der Deutsche Akademische Austauschdienst (DAAD) gefördert hat, führt zehn Studierende der Fachrichtung Geschichte (Interessenschwerpunkt auf Didaktik der Geschichte/Ausbildung zukünftiger Geschichtslehrer) aus der State University of Jakarta (UNJ) an die Pädagogische Hochschule Ludwigsburg. Es handelt sich um die Studentinnen Wintarsih, Dhea Maria Suryawan, Nuri Tomandoina, Restu Yanuar Ula und um die Studenten Sena Okto P., Raden Bimo Wicaksono, Faizal Firdaus, Madito Mahardika, Febry Satya dan Riski Gustiar. Bei den Namen sollte man wissen, dass manche Indonesier nur einen einzigen Namen haben, also keinen Vor- und Nachnamen. Sie werden begleitet von ihrer Dozentin Kurniawati S. Pd., M. Si. Indonesien ist von der Bevölkerung her das größte muslimische Land der Welt, so dass die Gespräche auch und gerade für die deutschen Gastgeber sehr lehrreich sein können.

Stadtrundgang und Clubtour mit Ludwigsburger Studentinnen und Studenten


Die Akademische Mitarbeiterin der Abteilung Kultur- und Medienbildung Kathrin Leipold und Studiengangsleiter Stephan Buchloh haben für die Gäste ein umfangreiches Programm ausgearbeitet, das nicht zuletzt von der Beteiligung vieler Studierender der Kultur- und Medienbildung lebt. So haben einige Studentinnen, darunter Hannah Baumstark, Julia Gösmann, Meike Krauß und Hannah Massinger, eine Führung durch Ludwigsburg vorbereitet, andere wie zum Beispiel Janna Bartholomä und Patrick Gängler haben eine gemeinsame Tour durch das Stuttgarter Nachtleben geplant. An einem der Abende treffen sich die Gäste zum Essen in einem typisch schwäbischen Restaurant. Studierende der PH Ludwigsburg und besonders des Studiengangs Kultur- und Medienbildung können an allen Programmpunkten teilnehmen. Das detaillierte Programm findet sich
hier.

Gespräche mit Hochschulvertretern und Seminarbesuche

Auch Kolleginnen und Kollegen aus der Hochschule wirken an dem Besuchsprogramm mit: Die Prorektorin für Studium und Lehre sowie internationale Beziehungen, Prof. Dr. Kerstin Merz-Atalik, wird die indonesischen Gäste ebenso empfangen wie der Dekan der Fakultät für Kultur- und Naturwissenschaften, Prof. Dr. Jörg-U. Keßler, und der Leiter des Akademischen Auslandsamtes, Dr. Peter Dines. Auch das Fach Geschichte ist vertreten: Die indonesischen Studierenden können an dem Seminar „The Industrial Revolution and its Basis in Technology, Science and Society“ teilnehmen, das Gisela Löffelbein anbietet. Stephan Buchloh lädt darüber hinaus zu einem Gespräch über einen deutschen Film ein, der sich mit der DDR-Vergangenheit beschäftigt. Kathrin Leipold wird den Besuchern die Besonderheiten der Pädagogischen Hochschule zeigen. Schließlich haben die Studierenden aus Südostasien die Gelegenheit, an einer Führung durch die Räume der „Stuttgarter Zeitung“ teilzunehmen. Die Pädagogische Hochschule und der Studiengang Kultur- und Medienbildung heißen die indonesischen Gäste herzlich willkommen!

Kathrin Leipold

Source : http://www.ph-ludwigsburg.de/12654.html 

Minggu, 09 Desember 2012

Pengalaman "EMAS" dari Jerman (1) : Bandara Soekarno Hatta - Jakarta


Tanggal 6 November 2012 merupakan hari yang saya tunggu-tunggu karena waktu keberangkatan saya ke Jerman pada malam hari, dimulai pagi itu saya sedang menghadiri Seminar yang diadakan BEMJ Sejarah dengan tema “Jaringan Ulama Betawi”, setelah mengikuti acara yang menarik ini saya bergegas pulang mengendarai motor menuju kediaman saya di daerah Tangerang. Setelah hampir 2 Jam perjalanan saya tiba di rumah, saya mulai memeriksa kembali barang bawaan saya yang akan dibawa ke Jerman. Sebelumnya saya jelaskan kunjungan belajar ke Kota Augsburg, Heidelberg, Ludwigsburg Jerman ini disponsori oleh DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst) sebutan lain dalam bahasa inggris yakni German Academic Exchange Service, semacam dinas kebudayan pemerintahan Jerman dalam pertukaran pelajar. Atas Prakarsa Dosen Pembimbing kami Ibu Kurniawati S.Pd, M.Si dan dibantu oleh 10 orang mahasiswa dari Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta (Sena Okto, Wintarsih, Dhea Maria, Nuri Tomandoina, Faisal Firdaus, Bimo Wicaksono, Madito Mahardika, Riski Gustiar, Restu Yanuar, dan Saya sendiri [Febry]) akhirnya kami bisa berangkat ke Jerman untuk tujuan kunjungan belajar mengenai pendidikan dan cara pengajaran di Jerman. Saya sangat berterima kasih banyak kepada Ibu Kurniawati dan 9 Rekan saya sehingga perjalanan ini dapat terlaksana dengan lancar dan sukses. Sekali lagi "Thank you very much for all" :D

Kembali ke persiapan saya di rumah, 1 Koper dan 1 Tas punggung siap menemani saya menuju negara kelahiran “Jurgen Habermas” tersebut. Terlintas dalam benak saya akan kelebihan muatan (over baggage > 30 kg) tetapi estimasi bawaan saya mungkin tidak lebih dari 25 kg. Kemudian malam itu saya akan berangkat menggunakan maskapai pesawat Emirates sekitar pukul 00.05 WIB,  Sekitar pukul 18.00 WIB saya diantar bersama orang tua saya menuju bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sekitar pukul 19.00 saya tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Terminal 2 Keberangkatan. Di sana ternyata sebagian rekan saya sudah tiba antara lain Faizal Firdaus, Nuri Tomandoina, Dhea Maria, Restu Yanuar, Riski Gustiar, kemudian disusul Bimo Wicaksono, Sena Okto, Wintarsih, Madito dan Ibu Kurniawati. Setelah berbincang sana-sini akhirnya kami berfoto-foto sekaligus membentangkan spanduk kami yang akan dibawa ke Jerman.

Foto Delegasi Sejarah UNJ Ke Jerman di Terminal Keberangkatan 2 Bandara Soekarno Hatta


Foto Delegasi Sejarah UNJ Ke Jerman di Terminal Keberangkatan 2 Bandara Soekarno Hatta


Setelah berbincang dan perpisahan dengan keluarga dan kerabat kami maka kami menuju Gate D2 untuk cek keimigrasian, di sinilah semua barang barang kita akan diperiksa mmm. Paspor dmaupun Visa diperiksa lalu saya pun berdoa agar semua barang-barang bisa saya bawa. Karena barang-barang yang saya butuhkan memang sangat berguna nanti di Jerman. Kemudian saya berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan dan di periksa tiket saya yang pertama.




Boarding Pass Jakarta-Dubai : Emirates Airlines



bersambung.....







Senin, 16 April 2012

Kudeta Soeharto Atas Soekarno

Hallo Kicauers :D
Salam Sejarah :D
Mau memberi Info tentang Kudeta Supersemar :D

Langsung yuk -----> 

Jakarta, 1 Oktober 1965. Dini hari itu terjadi percobaan kudeta. Panglima Angkatan Darat dan lima pejabat terasnya diculik dan belum diketahui nasibnya. Presiden Soekarno yang diselamatkan ke Istana Bogor menyatakan mengambil alih pimpinan AD, dan menunjuk Mayjen Pranoto Reksosamudro, Asisten III urusan personel di MBAD, sebagai pelaksana hariannya. Line of succesion–pada keadaan darurat perang– padahal mengatur kepanglimaan AD otomatis jatuh ke pundak Panglima Kostrad apabila Panglima AD gugur atau ditawan.

Sejak 1 Oktober siang, para jenderal AD, termasuk Menko Hankam/KASAB Jenderal Nasution yang lolos dari penyergapan musuh sudah berkumpul di Markas Kostrad di Merdeka Timur. Tapi malam harinya, markas itu dikosongkan karena terancam serangan udara. Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani (dulu kepangkatan perwira tinggi AU juga memakai istilah laksamana/sekarang Marsekal) sudah mengeluarkan ancaman akan bertindak apabila Kostrad menyerbu pangkalan AU Halim PK.

Sore itu, pasukan RPKAD memang sudah masuk wilayah Halim untuk mencari jenderal-jenderal AD yang diculik. Markas Kostrad dipindahkan ke perkampungan atlet internasional Senayan (kini Plaza Senayan dan Hotel Atlit), lalu siang keesokan harinya dipindahkan lagi ke kompleks Pusdik Departemen Sosial yang terletak di tepi perkebunan karet di Kelurahan Gandaria Selatan. Lokasi itu kini terletak di pertigaan Jalan Radio Dalam dan Jalan Haji Nawi, yang menuju ke Pondok Indah Mall.Sore itu di markas darurat Kostrad di Gandaria Selatan tersebut terlihat kesibukan pasukan pengawal yang mempersiapkan keberangkatan Panglima Kostrad Mayjen Soeharto yang dipanggil Presiden untuk menghadap di Istana Bogor. Soeharto berangkat ke Bogor dengan pengawalan sejumlah panser, dan baru kembali menjelang tengah malam.Para jenderal segera berkumpul di sebuah ruangan untuk mendengar laporan tentang pertemuan Bogor itu. Untuk diketahui, kompleks Pusdik Depsos itu terdiri dari sejumlah bangunan berujud sekolahan dengan ruang-ruang kelasnya. Jendela-jendelanya dibiarkan terbuka, tapi karena tingkapnya cukup tinggi, orang di luar tidak bisa melongok ke dalam. Percakapan di dalam tak bisa terdengar, dengungnya saja yang terpantul keluar. Namun ada satu suara yang cukup jelas terdengar. Bunyinya: “Manfaatkan perintah Pangti!”. Itu adalah logat Bataknya Jenderal Nasution.

Kopkamtib Jenderal Soeharto melaporkan bahwa Presiden mengambil alih kepemimpinan AD, menunjuk Mayjen Pranoto Reksosamudro sebagi pelaksana sehari-hari, dan kepadanya “hanya diberi” tugas untuk memulihkan keamanan dan ketertiban seperti sebelum kejadian 1 Oktober. Soeharto tampaknya kecewa dengan keputusan Presiden itu, tapi Nasution, yang paling senior di pertemuan itu segera saja menegaskan agar Soeharto menjalankan perintah dari presiden, Panglima Tertinggi (Pangti). Maka, seminggu kemudian, Soeharto membentuk Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban dan mengangkat dirinya sendiri sebagai panglimanya. Minggu berikutnya, ia melancarkan pembersihan PKI sampai ke akar-akarnya. Tanpa jabatan sebagai Panglima AD, wewenang sebagai Pangkopkamtib ternyata lebih efektif. Toh pertengahan Oktober, Pangti mengangkatnya juga sebagai Menteri/Panglima AD. Lalu 1 November, Presiden mengukuhkan Kopkamtib.Pembentukan Kopkamtib inilah yang menjadi kunci pertama yang membuka jalan kekuasaan Jenderal Soeharto. Maka, beranjak dari perintah Pangti di awal Oktober 1965 itu, Soeharto secara bertahap dan persisten membangun kekuatannya. Untuk itu, kalau perlu, dengan gertakan darah. Presiden Soekarno dan para elite pendukungnya dikejutkan oleh operasi pasukan Kostrad dan RPKAD yang merenggut ratusan ribu nyawa rakyat biasa di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Fact Finding Commision dibentuk untuk mencari tahu. Tapi segera saja Soeharto tak lagi dipandang sebelah mata. Dalam waktu singkat–Oktober sampai November, ia telah menjadi Panglima AD, Pangkopkamtib, dan Perwira Penyerah Perkara untuk menyeret para pelaku percobaan kudeta G-30-S ke Mahkamah Militer Luar Biasa. Tahun beralih ke 1966, Soeharto sudah menjadi tokoh determinan dalam perubahan nasib bangsa dan negara. Ia tinggal berhadapan dengan Presiden Soekarno, sehingga masa-masa itu Indonesia disebut berada di bawah dualisme kepemimpinan. Namun, Soeharto lebih unggul di kancah real politics dan pergerakan masyarakat yang menuntut perubahan. Di pihaknya, ada kekuatan mahasiwa yang tiap hari bergerak dan para teknokrat yang memang sudah bergabung di forum Seskoad. Ia pun didukung oleh kekuatan riel AD, yakni Kostrad, resimen pasukan khusus RPKAD, Pusat Kavaleri. Di dalam kesatuan Kostrad terdapat dua batalyon elite Siliwangi.

Supersemar Soeharto berada di struktur resmi pemerintahan Soekarno, tapi juga berada di belakang penggalangan untuk menurunkan Soekarno. Maka ia lebih suka mangkir dari sidang kabinet dengan alasan sakit. Soeharto tidak hadir pada sidang kabinet 11 Maret 1966.Maka di luar istana berbaris satuan-satuan tentara tanpa tanda kesatuan. Di antara perwira pengawal istana dan perwira pasukan “liar” ada yang saling menyapa karena kenal. Komandan pengawal bertanya apa maksud dari pasukan yang berkeliaran itu. Dijawab, “menangkap Subandrio”. Secarik informasi tentang pasukan tanpa tanda pengenal itu masuk ruang sidang.
Presiden membacanya, menyadari bahwa Soeharto tidak hadir di sidang itu, ia memutuskan untuk menyingkir. Subandrio yang juga membaca memo itu berlari mengikuti Presiden Soekarno yang diterbangkan dengan helikopter ke Bogor.Selanjutnya adalah cerita tentang Surat Perintah 11 Maret (Super Semar) yang terkenal itu. Isinya adalah soal menjamin keamanan, mirip perintah yang diberikan pada 2 Oktober 1965. Lalu, menjaga keselamatan Soekarno bersama keluarga, serta menjaga ajaran-ajarannya. Super Semar itu juga berisi perintah untuk berkoordinasi erat dengan angkatan-angkatan bersenjata lainnya (AL, AU, Kepolisian). Harap diingat, waktu itu angkatan bersenjata belum terintegrasi, masing-masing jalan sendiri. Yang tidak kalah penting adalah bahwa Super Semar itu juga memerintahkan Soeharto untuk tetap melapor kepada Presiden/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS. Dengan wewenang Super Semar, Soeharto membereskan kekuatan politik kiri sekaligus menghapuskan dualisme kepemimpinan. Soekarno bereaksi keras dan menyatakan dirinya masih berkuasa penuh dan hanya bertanggung jawab pada MPRS dan Tuhan.Tapi dengan lugas, Soeharto membawa urusan Super Semar itu ke sidang MPRS (Juni 1966). Lembaga tertinggi negara itu mengukuhkan Super Semar sebagai Tap MPRS dan menetapkan Soeharto sebagai pengembannya. Dengan Tap IX/MPRS/1966 itu, Soeharto juga menjadi mandataris MPRS yang secara konstitusional statusnya sederajat dengan mandataris Soekarno. Maka ia tidak perlu lagi harus melapor kepada Presiden. Tepat setahun setelah keluarnya Super Semar, MPRS memberhentikan Soekarno sebagai Presiden, dan Soeharto, pengemban Tap IX/MPRS/1966 diangkat sebagai Pejabat Presiden. Inilah yang kemudian disebut orang luar sebagai creeping coup d’etat, kudeta dengan mengendap-endap. Setahun setelah itu, Soeharto menjadi presiden penuh.

(Source: Manfaatkan Perintah Pangti!

SINAR HARAPAN Minggu, 27 Januari 2008
Oleh: Daud Sinjal
Penulis adalah wartawan senior.
Anggota staf Biro Juru bicara Menko Hankam/KASAB 1964-1966 )

SUMBER : http://adminkece.blogdetik.com/2012/04/02/kudeta-soeharto-atas-soekarno/?utm_source=Admin+Kece+SejarahRI&utm_medium=twitter&utm_campaign=Admin+Kece+SejarahRI

Salam Kicauers Febry :* :* :*

Jumat, 13 April 2012

Ternyata ada 4 kota di Belanda terdapat Jalan R.A Kartini

Selamat Pagi Kicauers :D :D :D
Saya mau berbagi infoooo nih :D
Tentang Raden Adjeng Kartini Straat :D


Raden Adjeng Kartini Straat


Pada tanggal 21 April 2011 lalu Belanda tidak memperingati Hari Kartini seperti di Indonesia Namun demikian nama Kartini cukup dikenal di Belanda sebagai pejuang hak-hak perempuan.Maklum Kartini memang lebih dulu dipopulerkan oleh orang Belanda dan terutama di Belanda baru kemudian di Hindia Belanda kelak jadi Indonesia

Terdapat empat kota di Belanda yang punya Kartinistraat,atau Jalan Raden Adjeng Kartini :

  1. Amsterdam, ibukota Belanda, juga mengabadikan nama penjuang hak-hak perempuan Jawa di abad 17 itu. Wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, Jalan Raden Adjeng Kartini ditulis lengkap, Di sekitarnya adalah nama-nama wanita dari seluruh dunia yang punya kontribusi dalam sejarah: Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards.
  2. Haarlem Paling menarik mengamati letak jalan Kartini di Haarlem. Di sana Jalan RA Kartini berdekatan dengan Jalan Mohammed Hatta, Jl Sutan Sjahrir dan langsung tembus ke Jalan Chris Soumokil, presiden kedua Republik Maluku Selatan (RMS).  Di Belanda, tanggal 21 April tidak ubahnya dengan hari-hari lainnya. Pasangan Peters yang tinggal di Kartinistraat di Utrecht tahu bahwa Kartini adalah seorang Jawa yang berjuang untuk persamaan hak wanita.
  3. Utrecht Jalan RA Kartini terletak di kawasan tenang dengan perumahan apik dan kebanyakan dihuni kalangan menengah. Jalan utama ini berbentuk ‘U’ yang ukurannya lebih besar dibanding jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Chez Geuvara,Agostinho Neto.
  4. Venlo Di Venlo, Belanda Selatan, RA Kartinistraat berbentuk ‘O’ di kawasan Hagerhof, di sekitarnya terdapat nama-nama jalan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut
Mereka juga mengerti bahwa Kartini adalah wanita Jawa pertama yang menuntut pendidikan yang lebih tinggi, Ia menyayangkan bahwa Kartini meninggal pada usia yang terlalu muda.
“Dia adalah pejuang persamaan derajat pria dan wanita. Sayang sekali dia meninggal pada usia muda” kata Peters. Selebihnya, mereka tidak tahu bahwa tanggal 21 April adalah hari kelahiran pahlawan Indonesia  ini.
Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah dan meninggal pada usia 25 tahun. Salah satu buku kumpulan surat RA Kartini ditulis dalam bahasa Belanda,Door Duisternis Tot Licht diterjemahkan menjadi,Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Menurut Prof.Dr. Lilie Suratminto. pakar Sastra Belanda di Indonesia. Door Duisternis Tot Licht lebih cocok dengan pengertian "Melalui Kegelapan Menuju ke Arah Yang Terang", Jadi jika "Habis Gelap Terbitlah Terang" itu lebih cocok sebagai slogan PLN (Perusahaan Listrik Negara)”  katanya.
Menurut Prof.Dr. Lilie Suratminto, sebenarnya tekanannya harus lebih pada perjuangan. “Terang itu didapat melalui jalan yang gelap dulu baru mendapat titik terang, itulah yang dicita-citakan Kartini” ungkap dosen Universitas Indonesia ,yang juga menjadi dosen tamu untuk mengajar mata kuliah Bahasa Belanda di Jurusan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ).


SEKIAN.

Sumber : http://tutorial-blogs.blogspot.com/2011/04/4-kota-di-belanda-ini-menggunakan-nama.html



SALAM KICAUERS FEBRY :* :* :*


Jumat, 06 April 2012

Tips Membaca Cepat

 Salam Kicauers :D :D :D
 Semoga selalu sehat dan banyak Rezeki :*


KITA semua pasti pernah merasakan jenuh dengan tugas membaca dari dosen. Tidak jarang, kita mengernyitkan dahi dan berusaha keras memahami kata-kata tak berujung pada tiap halaman.

Sering pula kita membaca ulang baris yang sama hanya untuk memahami maksudnya. Akibatnya, kita membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan satu buku.

Tugas membaca tidak akan menjadi begitu memuakkan jika kita menerapkan pola membaca cepat. Berikut tips membaca cepat yang bisa kamu aplikasikan, seperti dinukil dari Surviving College, Jumat (6/4/2012).

Skimming


Skimming dapat menghemat waktumu. Cobalah membaca kalimat topik dan mencari ide-ide utama tanpa terlalu fokus dalam rincian. Tentu saja, skimming menukar kecepatan dengan kedalaman materi sehingga kamu akan merasa ada kesenjangan pemahaman. Tetapi untuk mendapatkan gambaran umum dari sebuah buku, trik ini bekerja dengan baik.

Baca satu bab


Ketika membaca untuk bahan diskusi, kadang-kadang lebih baik untuk membaca satu atau dua bab secara menyeluruh dan skimming pada sisanya. Sesi diskusi dapat 'membunuhmu' jika kamu hanya membaca sekilas.

Membaca satu atau dua bab secara kritis akan membantumu berkontribusi dalam sebuah diskusi. Siapa tahu kamu juga beruntung jika bab yang kamu baca menjadi fokus diskusi.

Periksa abstrak


Artikel ilmiah biasanya disertai abstrak, yaitu ringkasan yang memberikan gambaran garis besar tentang tulisan yang akan kamu baca. Abstrak merupakan cara terbaik untuk mendapatkan ide dasar dari artikel ilmiah tanpa harus membaca seluruh artikel.

Yang perlu kamu ingat adalah, tidak ada yang bisa menggantikan pemahaman yang kita dapat dari benar-benar membaca dengan menerapkan pola membaca cepat. Strategi membaca cepat memang dapat menghemat waktu kita, tapi membuat kita kurang mendapat rincian.

Jika kamu kesulitan dalam membaca atau mempertahankan informasi, cobalah untuk membaca satu buku sedikit demi sedikit. 

Sumber : http://kampus.okezone.com/read/2012/04/06/373/606846/begini-cara-membaca-cepat

Salam Kicauers Febry :*

Senin, 02 April 2012

Joko Widodo - Walikota Solo

Salam Kicauers Febry :D :D :D :D :D :D :D
mau sharing nih pemimpin yang mesti dicontoh :D
Walikota favorit semua orang nih.


The City Mayors Foundation mengeluarkan nominasi penerima penghargaan untuk walikota terbaik dunia 2012. Para nominator tersebut, 15 dari Amerika Utara, 12 Amerika latin, 24 Eropa, 17 Asia, 3 dari Australia, dan 6 nominator dari Afrika.

Dikutip dari laman worldmayor, ada tiga nominator walikota terbaik dari Indonesia. Mereka adalah Walikota Solo, Joko Widodo, alias Jokowi, Walikota Surabaya Tri Rismaharani, dan Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo.

Total ada 17 nominator dari Asia. Mereka juga harus bersaing dengan sejumlah kepala daerah dari negara di berbagai benua lainnya.

Pemilihan walikota terbaik dunia ini akan dilakukan hingga pertengahan Mei 2012. Kandidat akan diperbarui secara berkala melalui situs resmi walikota dunia dan melalui Twitter. Dukungan diterima melalui individu maupun organisasi.

Sebanyak 25 nominator akan dipublikasikan awal Juni 2012. Pemenang kontes ini akan diumumkan pada awal Desember 2012.

Pemenang kontes walikota terbaik dunia sebelumnya adalah Edi Rama (Tirana, 2004), Dora Bakoyannis (Athens, 2005), John So (Melbourne, 2006), Helen Zille (Cape Town, 2008), Marcelo Ebrard (Mexico City, 2010).



Sumber :
http://nasional.vivanews.com/news/read/301317-jokowi-jadi-nominator-walikota-terbaik-dunia