Sabtu, 22 Desember 2012

Article about Study Visit UNJ to PH Ludwigsburg (Article In German)


Thursday, December 20, 2012

15. bis 17. November 2012: Besuch indonesischer Studentengruppe in der Abteilung Kultur- und Medienbildung
Umfangreiches Programm für Gäste aus Südostasien



Auf Einladung von Stephan Buchloh, dem Leiter der Abteilung Kultur- und Medienbildung, sind zehn Studentinnen und Studenten der State University of Jakarta (UNJ), Indonesien, im November für drei Tage zu Gast in der Pädagogischen Hochschule Ludwigsburg. Auf dem Programm stehen unter anderem Gespräche mit Hochschulvertretern und mit deutschen Studierenden, ein Seminarbesuch, ein Filmgespräch, eine von Studentinnen organisierte Stadtführung durch Ludwigsburg und ein Besuch bei der „Stuttgarter Zeitung“.

Eine Studienreise, die der Deutsche Akademische Austauschdienst (DAAD) gefördert hat, führt zehn Studierende der Fachrichtung Geschichte (Interessenschwerpunkt auf Didaktik der Geschichte/Ausbildung zukünftiger Geschichtslehrer) aus der State University of Jakarta (UNJ) an die Pädagogische Hochschule Ludwigsburg. Es handelt sich um die Studentinnen Wintarsih, Dhea Maria Suryawan, Nuri Tomandoina, Restu Yanuar Ula und um die Studenten Sena Okto P., Raden Bimo Wicaksono, Faizal Firdaus, Madito Mahardika, Febry Satya dan Riski Gustiar. Bei den Namen sollte man wissen, dass manche Indonesier nur einen einzigen Namen haben, also keinen Vor- und Nachnamen. Sie werden begleitet von ihrer Dozentin Kurniawati S. Pd., M. Si. Indonesien ist von der Bevölkerung her das größte muslimische Land der Welt, so dass die Gespräche auch und gerade für die deutschen Gastgeber sehr lehrreich sein können.

Stadtrundgang und Clubtour mit Ludwigsburger Studentinnen und Studenten


Die Akademische Mitarbeiterin der Abteilung Kultur- und Medienbildung Kathrin Leipold und Studiengangsleiter Stephan Buchloh haben für die Gäste ein umfangreiches Programm ausgearbeitet, das nicht zuletzt von der Beteiligung vieler Studierender der Kultur- und Medienbildung lebt. So haben einige Studentinnen, darunter Hannah Baumstark, Julia Gösmann, Meike Krauß und Hannah Massinger, eine Führung durch Ludwigsburg vorbereitet, andere wie zum Beispiel Janna Bartholomä und Patrick Gängler haben eine gemeinsame Tour durch das Stuttgarter Nachtleben geplant. An einem der Abende treffen sich die Gäste zum Essen in einem typisch schwäbischen Restaurant. Studierende der PH Ludwigsburg und besonders des Studiengangs Kultur- und Medienbildung können an allen Programmpunkten teilnehmen. Das detaillierte Programm findet sich
hier.

Gespräche mit Hochschulvertretern und Seminarbesuche

Auch Kolleginnen und Kollegen aus der Hochschule wirken an dem Besuchsprogramm mit: Die Prorektorin für Studium und Lehre sowie internationale Beziehungen, Prof. Dr. Kerstin Merz-Atalik, wird die indonesischen Gäste ebenso empfangen wie der Dekan der Fakultät für Kultur- und Naturwissenschaften, Prof. Dr. Jörg-U. Keßler, und der Leiter des Akademischen Auslandsamtes, Dr. Peter Dines. Auch das Fach Geschichte ist vertreten: Die indonesischen Studierenden können an dem Seminar „The Industrial Revolution and its Basis in Technology, Science and Society“ teilnehmen, das Gisela Löffelbein anbietet. Stephan Buchloh lädt darüber hinaus zu einem Gespräch über einen deutschen Film ein, der sich mit der DDR-Vergangenheit beschäftigt. Kathrin Leipold wird den Besuchern die Besonderheiten der Pädagogischen Hochschule zeigen. Schließlich haben die Studierenden aus Südostasien die Gelegenheit, an einer Führung durch die Räume der „Stuttgarter Zeitung“ teilzunehmen. Die Pädagogische Hochschule und der Studiengang Kultur- und Medienbildung heißen die indonesischen Gäste herzlich willkommen!

Kathrin Leipold

Source : http://www.ph-ludwigsburg.de/12654.html 

Minggu, 09 Desember 2012

Pengalaman "EMAS" dari Jerman (1) : Bandara Soekarno Hatta - Jakarta


Tanggal 6 November 2012 merupakan hari yang saya tunggu-tunggu karena waktu keberangkatan saya ke Jerman pada malam hari, dimulai pagi itu saya sedang menghadiri Seminar yang diadakan BEMJ Sejarah dengan tema “Jaringan Ulama Betawi”, setelah mengikuti acara yang menarik ini saya bergegas pulang mengendarai motor menuju kediaman saya di daerah Tangerang. Setelah hampir 2 Jam perjalanan saya tiba di rumah, saya mulai memeriksa kembali barang bawaan saya yang akan dibawa ke Jerman. Sebelumnya saya jelaskan kunjungan belajar ke Kota Augsburg, Heidelberg, Ludwigsburg Jerman ini disponsori oleh DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst) sebutan lain dalam bahasa inggris yakni German Academic Exchange Service, semacam dinas kebudayan pemerintahan Jerman dalam pertukaran pelajar. Atas Prakarsa Dosen Pembimbing kami Ibu Kurniawati S.Pd, M.Si dan dibantu oleh 10 orang mahasiswa dari Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta (Sena Okto, Wintarsih, Dhea Maria, Nuri Tomandoina, Faisal Firdaus, Bimo Wicaksono, Madito Mahardika, Riski Gustiar, Restu Yanuar, dan Saya sendiri [Febry]) akhirnya kami bisa berangkat ke Jerman untuk tujuan kunjungan belajar mengenai pendidikan dan cara pengajaran di Jerman. Saya sangat berterima kasih banyak kepada Ibu Kurniawati dan 9 Rekan saya sehingga perjalanan ini dapat terlaksana dengan lancar dan sukses. Sekali lagi "Thank you very much for all" :D

Kembali ke persiapan saya di rumah, 1 Koper dan 1 Tas punggung siap menemani saya menuju negara kelahiran “Jurgen Habermas” tersebut. Terlintas dalam benak saya akan kelebihan muatan (over baggage > 30 kg) tetapi estimasi bawaan saya mungkin tidak lebih dari 25 kg. Kemudian malam itu saya akan berangkat menggunakan maskapai pesawat Emirates sekitar pukul 00.05 WIB,  Sekitar pukul 18.00 WIB saya diantar bersama orang tua saya menuju bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sekitar pukul 19.00 saya tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Terminal 2 Keberangkatan. Di sana ternyata sebagian rekan saya sudah tiba antara lain Faizal Firdaus, Nuri Tomandoina, Dhea Maria, Restu Yanuar, Riski Gustiar, kemudian disusul Bimo Wicaksono, Sena Okto, Wintarsih, Madito dan Ibu Kurniawati. Setelah berbincang sana-sini akhirnya kami berfoto-foto sekaligus membentangkan spanduk kami yang akan dibawa ke Jerman.

Foto Delegasi Sejarah UNJ Ke Jerman di Terminal Keberangkatan 2 Bandara Soekarno Hatta


Foto Delegasi Sejarah UNJ Ke Jerman di Terminal Keberangkatan 2 Bandara Soekarno Hatta


Setelah berbincang dan perpisahan dengan keluarga dan kerabat kami maka kami menuju Gate D2 untuk cek keimigrasian, di sinilah semua barang barang kita akan diperiksa mmm. Paspor dmaupun Visa diperiksa lalu saya pun berdoa agar semua barang-barang bisa saya bawa. Karena barang-barang yang saya butuhkan memang sangat berguna nanti di Jerman. Kemudian saya berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan dan di periksa tiket saya yang pertama.




Boarding Pass Jakarta-Dubai : Emirates Airlines



bersambung.....







Senin, 16 April 2012

Kudeta Soeharto Atas Soekarno

Hallo Kicauers :D
Salam Sejarah :D
Mau memberi Info tentang Kudeta Supersemar :D

Langsung yuk -----> 

Jakarta, 1 Oktober 1965. Dini hari itu terjadi percobaan kudeta. Panglima Angkatan Darat dan lima pejabat terasnya diculik dan belum diketahui nasibnya. Presiden Soekarno yang diselamatkan ke Istana Bogor menyatakan mengambil alih pimpinan AD, dan menunjuk Mayjen Pranoto Reksosamudro, Asisten III urusan personel di MBAD, sebagai pelaksana hariannya. Line of succesion–pada keadaan darurat perang– padahal mengatur kepanglimaan AD otomatis jatuh ke pundak Panglima Kostrad apabila Panglima AD gugur atau ditawan.

Sejak 1 Oktober siang, para jenderal AD, termasuk Menko Hankam/KASAB Jenderal Nasution yang lolos dari penyergapan musuh sudah berkumpul di Markas Kostrad di Merdeka Timur. Tapi malam harinya, markas itu dikosongkan karena terancam serangan udara. Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani (dulu kepangkatan perwira tinggi AU juga memakai istilah laksamana/sekarang Marsekal) sudah mengeluarkan ancaman akan bertindak apabila Kostrad menyerbu pangkalan AU Halim PK.

Sore itu, pasukan RPKAD memang sudah masuk wilayah Halim untuk mencari jenderal-jenderal AD yang diculik. Markas Kostrad dipindahkan ke perkampungan atlet internasional Senayan (kini Plaza Senayan dan Hotel Atlit), lalu siang keesokan harinya dipindahkan lagi ke kompleks Pusdik Departemen Sosial yang terletak di tepi perkebunan karet di Kelurahan Gandaria Selatan. Lokasi itu kini terletak di pertigaan Jalan Radio Dalam dan Jalan Haji Nawi, yang menuju ke Pondok Indah Mall.Sore itu di markas darurat Kostrad di Gandaria Selatan tersebut terlihat kesibukan pasukan pengawal yang mempersiapkan keberangkatan Panglima Kostrad Mayjen Soeharto yang dipanggil Presiden untuk menghadap di Istana Bogor. Soeharto berangkat ke Bogor dengan pengawalan sejumlah panser, dan baru kembali menjelang tengah malam.Para jenderal segera berkumpul di sebuah ruangan untuk mendengar laporan tentang pertemuan Bogor itu. Untuk diketahui, kompleks Pusdik Depsos itu terdiri dari sejumlah bangunan berujud sekolahan dengan ruang-ruang kelasnya. Jendela-jendelanya dibiarkan terbuka, tapi karena tingkapnya cukup tinggi, orang di luar tidak bisa melongok ke dalam. Percakapan di dalam tak bisa terdengar, dengungnya saja yang terpantul keluar. Namun ada satu suara yang cukup jelas terdengar. Bunyinya: “Manfaatkan perintah Pangti!”. Itu adalah logat Bataknya Jenderal Nasution.

Kopkamtib Jenderal Soeharto melaporkan bahwa Presiden mengambil alih kepemimpinan AD, menunjuk Mayjen Pranoto Reksosamudro sebagi pelaksana sehari-hari, dan kepadanya “hanya diberi” tugas untuk memulihkan keamanan dan ketertiban seperti sebelum kejadian 1 Oktober. Soeharto tampaknya kecewa dengan keputusan Presiden itu, tapi Nasution, yang paling senior di pertemuan itu segera saja menegaskan agar Soeharto menjalankan perintah dari presiden, Panglima Tertinggi (Pangti). Maka, seminggu kemudian, Soeharto membentuk Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban dan mengangkat dirinya sendiri sebagai panglimanya. Minggu berikutnya, ia melancarkan pembersihan PKI sampai ke akar-akarnya. Tanpa jabatan sebagai Panglima AD, wewenang sebagai Pangkopkamtib ternyata lebih efektif. Toh pertengahan Oktober, Pangti mengangkatnya juga sebagai Menteri/Panglima AD. Lalu 1 November, Presiden mengukuhkan Kopkamtib.Pembentukan Kopkamtib inilah yang menjadi kunci pertama yang membuka jalan kekuasaan Jenderal Soeharto. Maka, beranjak dari perintah Pangti di awal Oktober 1965 itu, Soeharto secara bertahap dan persisten membangun kekuatannya. Untuk itu, kalau perlu, dengan gertakan darah. Presiden Soekarno dan para elite pendukungnya dikejutkan oleh operasi pasukan Kostrad dan RPKAD yang merenggut ratusan ribu nyawa rakyat biasa di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Fact Finding Commision dibentuk untuk mencari tahu. Tapi segera saja Soeharto tak lagi dipandang sebelah mata. Dalam waktu singkat–Oktober sampai November, ia telah menjadi Panglima AD, Pangkopkamtib, dan Perwira Penyerah Perkara untuk menyeret para pelaku percobaan kudeta G-30-S ke Mahkamah Militer Luar Biasa. Tahun beralih ke 1966, Soeharto sudah menjadi tokoh determinan dalam perubahan nasib bangsa dan negara. Ia tinggal berhadapan dengan Presiden Soekarno, sehingga masa-masa itu Indonesia disebut berada di bawah dualisme kepemimpinan. Namun, Soeharto lebih unggul di kancah real politics dan pergerakan masyarakat yang menuntut perubahan. Di pihaknya, ada kekuatan mahasiwa yang tiap hari bergerak dan para teknokrat yang memang sudah bergabung di forum Seskoad. Ia pun didukung oleh kekuatan riel AD, yakni Kostrad, resimen pasukan khusus RPKAD, Pusat Kavaleri. Di dalam kesatuan Kostrad terdapat dua batalyon elite Siliwangi.

Supersemar Soeharto berada di struktur resmi pemerintahan Soekarno, tapi juga berada di belakang penggalangan untuk menurunkan Soekarno. Maka ia lebih suka mangkir dari sidang kabinet dengan alasan sakit. Soeharto tidak hadir pada sidang kabinet 11 Maret 1966.Maka di luar istana berbaris satuan-satuan tentara tanpa tanda kesatuan. Di antara perwira pengawal istana dan perwira pasukan “liar” ada yang saling menyapa karena kenal. Komandan pengawal bertanya apa maksud dari pasukan yang berkeliaran itu. Dijawab, “menangkap Subandrio”. Secarik informasi tentang pasukan tanpa tanda pengenal itu masuk ruang sidang.
Presiden membacanya, menyadari bahwa Soeharto tidak hadir di sidang itu, ia memutuskan untuk menyingkir. Subandrio yang juga membaca memo itu berlari mengikuti Presiden Soekarno yang diterbangkan dengan helikopter ke Bogor.Selanjutnya adalah cerita tentang Surat Perintah 11 Maret (Super Semar) yang terkenal itu. Isinya adalah soal menjamin keamanan, mirip perintah yang diberikan pada 2 Oktober 1965. Lalu, menjaga keselamatan Soekarno bersama keluarga, serta menjaga ajaran-ajarannya. Super Semar itu juga berisi perintah untuk berkoordinasi erat dengan angkatan-angkatan bersenjata lainnya (AL, AU, Kepolisian). Harap diingat, waktu itu angkatan bersenjata belum terintegrasi, masing-masing jalan sendiri. Yang tidak kalah penting adalah bahwa Super Semar itu juga memerintahkan Soeharto untuk tetap melapor kepada Presiden/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS. Dengan wewenang Super Semar, Soeharto membereskan kekuatan politik kiri sekaligus menghapuskan dualisme kepemimpinan. Soekarno bereaksi keras dan menyatakan dirinya masih berkuasa penuh dan hanya bertanggung jawab pada MPRS dan Tuhan.Tapi dengan lugas, Soeharto membawa urusan Super Semar itu ke sidang MPRS (Juni 1966). Lembaga tertinggi negara itu mengukuhkan Super Semar sebagai Tap MPRS dan menetapkan Soeharto sebagai pengembannya. Dengan Tap IX/MPRS/1966 itu, Soeharto juga menjadi mandataris MPRS yang secara konstitusional statusnya sederajat dengan mandataris Soekarno. Maka ia tidak perlu lagi harus melapor kepada Presiden. Tepat setahun setelah keluarnya Super Semar, MPRS memberhentikan Soekarno sebagai Presiden, dan Soeharto, pengemban Tap IX/MPRS/1966 diangkat sebagai Pejabat Presiden. Inilah yang kemudian disebut orang luar sebagai creeping coup d’etat, kudeta dengan mengendap-endap. Setahun setelah itu, Soeharto menjadi presiden penuh.

(Source: Manfaatkan Perintah Pangti!

SINAR HARAPAN Minggu, 27 Januari 2008
Oleh: Daud Sinjal
Penulis adalah wartawan senior.
Anggota staf Biro Juru bicara Menko Hankam/KASAB 1964-1966 )

SUMBER : http://adminkece.blogdetik.com/2012/04/02/kudeta-soeharto-atas-soekarno/?utm_source=Admin+Kece+SejarahRI&utm_medium=twitter&utm_campaign=Admin+Kece+SejarahRI

Salam Kicauers Febry :* :* :*

Jumat, 13 April 2012

Ternyata ada 4 kota di Belanda terdapat Jalan R.A Kartini

Selamat Pagi Kicauers :D :D :D
Saya mau berbagi infoooo nih :D
Tentang Raden Adjeng Kartini Straat :D


Raden Adjeng Kartini Straat


Pada tanggal 21 April 2011 lalu Belanda tidak memperingati Hari Kartini seperti di Indonesia Namun demikian nama Kartini cukup dikenal di Belanda sebagai pejuang hak-hak perempuan.Maklum Kartini memang lebih dulu dipopulerkan oleh orang Belanda dan terutama di Belanda baru kemudian di Hindia Belanda kelak jadi Indonesia

Terdapat empat kota di Belanda yang punya Kartinistraat,atau Jalan Raden Adjeng Kartini :

  1. Amsterdam, ibukota Belanda, juga mengabadikan nama penjuang hak-hak perempuan Jawa di abad 17 itu. Wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, Jalan Raden Adjeng Kartini ditulis lengkap, Di sekitarnya adalah nama-nama wanita dari seluruh dunia yang punya kontribusi dalam sejarah: Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards.
  2. Haarlem Paling menarik mengamati letak jalan Kartini di Haarlem. Di sana Jalan RA Kartini berdekatan dengan Jalan Mohammed Hatta, Jl Sutan Sjahrir dan langsung tembus ke Jalan Chris Soumokil, presiden kedua Republik Maluku Selatan (RMS).  Di Belanda, tanggal 21 April tidak ubahnya dengan hari-hari lainnya. Pasangan Peters yang tinggal di Kartinistraat di Utrecht tahu bahwa Kartini adalah seorang Jawa yang berjuang untuk persamaan hak wanita.
  3. Utrecht Jalan RA Kartini terletak di kawasan tenang dengan perumahan apik dan kebanyakan dihuni kalangan menengah. Jalan utama ini berbentuk ‘U’ yang ukurannya lebih besar dibanding jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Chez Geuvara,Agostinho Neto.
  4. Venlo Di Venlo, Belanda Selatan, RA Kartinistraat berbentuk ‘O’ di kawasan Hagerhof, di sekitarnya terdapat nama-nama jalan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut
Mereka juga mengerti bahwa Kartini adalah wanita Jawa pertama yang menuntut pendidikan yang lebih tinggi, Ia menyayangkan bahwa Kartini meninggal pada usia yang terlalu muda.
“Dia adalah pejuang persamaan derajat pria dan wanita. Sayang sekali dia meninggal pada usia muda” kata Peters. Selebihnya, mereka tidak tahu bahwa tanggal 21 April adalah hari kelahiran pahlawan Indonesia  ini.
Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah dan meninggal pada usia 25 tahun. Salah satu buku kumpulan surat RA Kartini ditulis dalam bahasa Belanda,Door Duisternis Tot Licht diterjemahkan menjadi,Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Menurut Prof.Dr. Lilie Suratminto. pakar Sastra Belanda di Indonesia. Door Duisternis Tot Licht lebih cocok dengan pengertian "Melalui Kegelapan Menuju ke Arah Yang Terang", Jadi jika "Habis Gelap Terbitlah Terang" itu lebih cocok sebagai slogan PLN (Perusahaan Listrik Negara)”  katanya.
Menurut Prof.Dr. Lilie Suratminto, sebenarnya tekanannya harus lebih pada perjuangan. “Terang itu didapat melalui jalan yang gelap dulu baru mendapat titik terang, itulah yang dicita-citakan Kartini” ungkap dosen Universitas Indonesia ,yang juga menjadi dosen tamu untuk mengajar mata kuliah Bahasa Belanda di Jurusan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ).


SEKIAN.

Sumber : http://tutorial-blogs.blogspot.com/2011/04/4-kota-di-belanda-ini-menggunakan-nama.html



SALAM KICAUERS FEBRY :* :* :*


Jumat, 06 April 2012

Tips Membaca Cepat

 Salam Kicauers :D :D :D
 Semoga selalu sehat dan banyak Rezeki :*


KITA semua pasti pernah merasakan jenuh dengan tugas membaca dari dosen. Tidak jarang, kita mengernyitkan dahi dan berusaha keras memahami kata-kata tak berujung pada tiap halaman.

Sering pula kita membaca ulang baris yang sama hanya untuk memahami maksudnya. Akibatnya, kita membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan satu buku.

Tugas membaca tidak akan menjadi begitu memuakkan jika kita menerapkan pola membaca cepat. Berikut tips membaca cepat yang bisa kamu aplikasikan, seperti dinukil dari Surviving College, Jumat (6/4/2012).

Skimming


Skimming dapat menghemat waktumu. Cobalah membaca kalimat topik dan mencari ide-ide utama tanpa terlalu fokus dalam rincian. Tentu saja, skimming menukar kecepatan dengan kedalaman materi sehingga kamu akan merasa ada kesenjangan pemahaman. Tetapi untuk mendapatkan gambaran umum dari sebuah buku, trik ini bekerja dengan baik.

Baca satu bab


Ketika membaca untuk bahan diskusi, kadang-kadang lebih baik untuk membaca satu atau dua bab secara menyeluruh dan skimming pada sisanya. Sesi diskusi dapat 'membunuhmu' jika kamu hanya membaca sekilas.

Membaca satu atau dua bab secara kritis akan membantumu berkontribusi dalam sebuah diskusi. Siapa tahu kamu juga beruntung jika bab yang kamu baca menjadi fokus diskusi.

Periksa abstrak


Artikel ilmiah biasanya disertai abstrak, yaitu ringkasan yang memberikan gambaran garis besar tentang tulisan yang akan kamu baca. Abstrak merupakan cara terbaik untuk mendapatkan ide dasar dari artikel ilmiah tanpa harus membaca seluruh artikel.

Yang perlu kamu ingat adalah, tidak ada yang bisa menggantikan pemahaman yang kita dapat dari benar-benar membaca dengan menerapkan pola membaca cepat. Strategi membaca cepat memang dapat menghemat waktu kita, tapi membuat kita kurang mendapat rincian.

Jika kamu kesulitan dalam membaca atau mempertahankan informasi, cobalah untuk membaca satu buku sedikit demi sedikit. 

Sumber : http://kampus.okezone.com/read/2012/04/06/373/606846/begini-cara-membaca-cepat

Salam Kicauers Febry :*

Senin, 02 April 2012

Joko Widodo - Walikota Solo

Salam Kicauers Febry :D :D :D :D :D :D :D
mau sharing nih pemimpin yang mesti dicontoh :D
Walikota favorit semua orang nih.


The City Mayors Foundation mengeluarkan nominasi penerima penghargaan untuk walikota terbaik dunia 2012. Para nominator tersebut, 15 dari Amerika Utara, 12 Amerika latin, 24 Eropa, 17 Asia, 3 dari Australia, dan 6 nominator dari Afrika.

Dikutip dari laman worldmayor, ada tiga nominator walikota terbaik dari Indonesia. Mereka adalah Walikota Solo, Joko Widodo, alias Jokowi, Walikota Surabaya Tri Rismaharani, dan Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo.

Total ada 17 nominator dari Asia. Mereka juga harus bersaing dengan sejumlah kepala daerah dari negara di berbagai benua lainnya.

Pemilihan walikota terbaik dunia ini akan dilakukan hingga pertengahan Mei 2012. Kandidat akan diperbarui secara berkala melalui situs resmi walikota dunia dan melalui Twitter. Dukungan diterima melalui individu maupun organisasi.

Sebanyak 25 nominator akan dipublikasikan awal Juni 2012. Pemenang kontes ini akan diumumkan pada awal Desember 2012.

Pemenang kontes walikota terbaik dunia sebelumnya adalah Edi Rama (Tirana, 2004), Dora Bakoyannis (Athens, 2005), John So (Melbourne, 2006), Helen Zille (Cape Town, 2008), Marcelo Ebrard (Mexico City, 2010).



Sumber :
http://nasional.vivanews.com/news/read/301317-jokowi-jadi-nominator-walikota-terbaik-dunia

Sabtu, 31 Maret 2012

Sejarah KOES PLUS - Bagian 1


Selamat Pagi Kicauers Febry :) :) :p
Kali ini saya akan membagi info tentang Grup Band Legend Favorit saya yaitu KOES PLUS,Mungkin benar pepatah yang mengatakan "Burung Bangau jatuhnya ke pelimbahan juga" (gatau maksudnya)


Langsung aja Kicauers ----> KOES PLUS


Koes Plus merupakan grup musik Indonesia yang dibentuk pada tahun 1969 sebagai kelanjutan dari grup Koes Bersaudara. Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini sering dianggap sebagai pelopor musik Pop dan Rock 'n roll di Indonesia. Sampai sekarang, grup musik ini kadang masih tampil di pentas musik membawakan lagu-lagu lama mereka,terakhir walaupun hanya tinggal dua anggotanya (Yon dan Murry) yang aktif ,lalu tinggal Yon sendiri yang membawakan Koes Plus dengan additional playernya.

Sejarah Koes Plus berawal dari Koes Bersaudara 1960-1963 personilnya antara lain Koesdjono(Jhon) pada Gitar, Koestono(Tonny) pada Keyboard, Koesjono(Yon) pada Vokal, Koesrojo(Yok) pada Bass, Koesnomo(Nomo) pada Drum. Namun pada akhir tahun 1963 Jhon Koeswoyo memutuskan berhenti menjadi musikus karena harus berkonsentrasi dengan pekerjaan kantornya.Maka mulai pada Tahun 1963 Koes Bersaudara minus Jhon ,empat anggota ini memulai kiprah lagi "Band Keluarga" ini.






Oya pada Tanggal 1 Juli 1965 Band ini sempat di penjara di Penjara Glodok,karena selalu memainkan lagu - lagu The Beatles  yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu. Sebuah tuduhan tanpa dasar hukum dan cenderung mengada ada, mereka dianggap memainkan musik "ngak ngek ngok" istilah Pemerintahan berkuasa saat itu, musik yg cenderung imperialisme pro barat. Dari penjara justru menghasilkan lagu-lagu yang sampai saat sekarang tetap menggetarkan, "Didalam Bui", "jadikan aku dombamu", "to the so called the guilties", dan "balada kamar 15" ,Menurut testimoninya di acara Kick Andy pada tahun 2008 band ini mengkonfirmasi jika di balik penangkapan mereka sebenarnya pemerintahan Soekarno menugaskan mereka dalam sebuah operasi Kontra Intelejen guna mendukung gerakan Ganyang Malaysia.

Dari kelompok Koes Bersaudara ini lahir lagu-lagu yang sangat populer seperti “Bis Sekolah”,“ Di Dalam Bui”, “Telaga Sunyi”, “Laguku Sendiri” dan masih banyak lagi. Tahun 1969 Satu anggota Koes Bersaudara, Nomo Koeswoyo keluar dan digantikan Murry sebagai drummer. Walaupun penggantian ini awalnya menimbulkan masalah dalam diri salah satu personalnya yakni Yok yang keberatan dengan orang luar. Maka nama Bersaudara seterusnya diganti dengan Plus, artinya plus orang luar: Murry.


Sebenarnya lagu-lagu Koes Bersaudara lebih bagus dari segi harmonisasi ( seperti lagu “Telaga Sunyi”, “Dewi Rindu” atau “Bis Sekolah”) dibanding lagu-lagu Koes Plus. Saat itu Nomo, selain bermusik juga mempunyai pekerjaan sampingan. Sementara Tonny menghendaki totalitas dalam bermusik yang membuat Nomo harus memilih. Akhirnya Koes Bersaudara harus berubah menjadi Koes Plus dimotori oleh almarhum Tonny Koeswoyo (anggota tertua dari keluarga Koeswoyo). Koes Plus dan Koes Bersaudara harus dicatat sebagai pelopor musik pop di Indonesia. Sulit dibayangkan sejarah musik pop kita tanpa kehadiran Koes Bersaudara dan Koes Plus.

Tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri adalah tradisi yang diciptakan Koes Bersaudara. Kemudian tradisi ini dilanjutkan Koes Plus dengan album serial volume 1, 2 dan seterusnya. Begitu dibentuk, Koes Plus tidak langsung mendapat simpati dari pecinta musik Indonesia.Piringan hitam album pertamanya sempat ditolak beberapa toko kaset. Mereka bahkan mentertawakan lagu “Kelelawar” yang sebenarnya asyik itu.

Kemudian Murry sempat ngambek dan pergi ke Jember sambil membagi-bagikan piringan hitam albumnya secara gratis pada teman-temannya. Dia bekerja di pabrik gula sekalian main band bersama Gombloh dalam grup musik Lemon Trees. Tonny yang kemudian menyusul Murry untuk diajak kembali ke Jakarta. Baru setelah lagu “Kelelawar” diputar di RRI,orang lalu mencari-cari album pertama Koes Plus. Beberapa waktu kemudian lewat lagu-lagunya “Derita”, “Kembali ke Jakarta”, “Malam Ini”, “Bunga di Tepi Jalan” hingga lagu “Cinta Buta”, Koes Plus mendominasi musik Indonesia waktu itu. (Tahun 1970-an)
 
Dengan adanya tuntutan dari produser perusahaan rekaman maka group-group lain yang “seangkatan” seperti Favourites,Panbers,Mercy's,D'Lloyd menjadikan Koes Plus sebagai “kiblat”, sehingga group-group ini selalu meniru apa yang dilakukan Koes Plus, pembuatan album di luar pop Indonesia, seperti Pop Melayu dan Pop Jawa menjadi trend group-group lain setelah Koes Plus mengawalinya.



Tunggu Lanjutannya KicauersKuuuuuu :D :D :D


SUMBER :

http://id.wikipedia.org/wiki/Koes_Plus

http://www.google.co.id/imgres?hl=id&client=firefox&sa=X&rls=com.yahoo:id:official&biw=1024&bih=465&tbm=isch&prmd=imvnslb&tbnid=Mj8OSLxzwK9BqM:&imgrefurl=http://senowidi.blogspot.com/2010/06/nasehat-koes-plus-untuk-kita.html&docid=MWQmAhvAaqVnAM&imgurl=http://1.bp.blogspot.com/_ZwD7rIrwuj0/TBSFMjpcWXI/AAAAAAAAALA/nuvfGCaZvf4/s1600/koes%252Bplus.jpg&w=400&h=626&ei=nSV3T4j0O8vQrQeQ3bWmDQ&zoom=1&iact=rc&dur=281&sig=108422873745442541122&page=1&tbnh=107&tbnw=72&start=0&ndsp=13&ved=1t:429,r:5,s:0&tx=12&ty=31


http://www.google.co.id/imgres?hl=id&client=firefox&sa=X&rls=com.yahoo:id:official&biw=1024&bih=465&tbm=isch&prmd=imvnslb&tbnid=DH-rcRLcQ-D3MM:&imgrefurl=http://kolom-biografi.blogspot.com/2012/02/biografi-koes-plus.html&docid=X28aiUvRRNNL5M&imgurl=http://3.bp.blogspot.com/-XV3F0_bFO4s/TZfuJW9kGmI/AAAAAAAABvk/F5IZTSRObgE/s1600/koes-plus.jpg&w=320&h=250&ei=nSV3T4j0O8vQrQeQ3bWmDQ&zoom=1&iact=hc&vpx=545&vpy=170&dur=6464&hovh=198&hovw=254&tx=148&ty=111&sig=108422873745442541122&page=1&tbnh=107&tbnw=181&start=0&ndsp=13&ved=1t:429,r:3,s:0




Senin, 19 Maret 2012

RESENSI BUKU II


Selamat pagi Kicauers :)
Pantengin yah (Serius dikit) Resensi Buku ini tentang Sejarah Kebudayaan Indonesia.

PERUBAHAN ARAH SASTRA INDONESIA

Judul                : Budaya dan Masyarakat
Penulis              : Prof.Dr.Kuntowijoyo
Penerbit             : PT. Tiara Wacana Yogya
Tahun               : 1,1987
Tebal                : 171 halaman


        Sastra merupakan kata yang tidak asing lagi di telinga kita,sastra sebagai bidang kajian sejarah intelektual masih belum banyak mendapatkan tempat dari penulis sejarah maupun penikmat sastra Indonesia, jika diamati sastra Indonesia merupakan bidang kajian yang menawarkan banyak kemungkinan. Sejarah intelektual dapat mempelajari perkembangan satra dari internal dialektik, perkembangan, kontinuitas,dan perubahan konsep-konsep kunci dari tema, proposisi dan posisi pikiran pengarangnya.
Jika kita percaya sastra sebagai simbol maka ini mempunyai korelasi terhadap sistem sosial yang membangunnya, maka kita akan mendapatkan keuntungan bila kita mempelajari sastra dari segi intelektual sama halnya dengan mempelajari kesadaran masyarakatnya.sastra dapat merupakan bayangan kehidupan masyarakat,perubahan masyarakat dan menampilakan filsafat sebagai landasan evaluasi yang terjadi. Hubungan langsung atau tidak langsung antara karya sastra sebagai sistem simbol dan sistem sosial dala arti ketergantungan merupakan apa yang disebut arah.
Munculnya sastra modern menggantikan sastra klasik ditandai dengan cita-cita untuk menampilkan kisah-kisah yang sudah terjadi atau dunia keseharian. Sastra adalah strukturasi dari pengalaman merupakan potret dari terbitnya sastra Balai pustaka 1920-an,mereka melihat dinamika yang terjadi dalam masyarakat contohnya Marah Rusli dalam Siti Nurbaya , maka sastra merupakan konfirmasi terhadap kenyataan-kenyataan sosial tetapi pengarang tak dapat mengambil sikap inilah yang disebut sastra simtomatik (ada dalam sistem sosial tetapi belum dalam sistem simbol sosial).
Kesadaran  kembali muncul dengan nama Pujangga Baru,sastra tahun 1930-an. Sastra tahun ini sudah ada pengintregasian sistemik antara sistem sosial dan simbol, seperti karya Sutan takdir Alisyahbana dengan sadar menunjukkan cita-cita kelas menengah untuk mendapatkan pengakuan dari kepemimpinan kelas sosial baru itu. Sastra ini menganalisa masyarakat dan menyatakan pendapat secara sadar maka termasuk sastra diagnostik.
Kritik sastra  masyarakat muncul pada tahun 1950-an contohnya tulisan Belenggu (1940) dengan penulisnya Armijn Pane atau karya Pramoedya yang berjudul Korupsi tahun 1954 merupakan sastra yang muncul akibat kekecewaan masyarakat terhadap kelas menengah kota, Indonesia yang baru lahir tidak banyak membawa perubahan mendasar kecuali politik pada saat itu. Lalu muncul angkatan 66 yang jelas menentang tirani politik pada saat itu, hingga tahun 1970-an seperti karya YB.Mangunwijaya, Burung-burung Manyar merupakan masih arah yang sama yakni termasuk sastra dialektik dimana sastra menjadi kritik sosial atau antitesis terhadap sistem sosial.
Kemudian muncul tradisi antiintelektualisme dalam sastra Indonesia didasari oleh Iwan Simatupang dan dilanjutkan oleh karya Darmanto JT yang berjudul urakan dan puisi mistik Abdul Hadi WM tahun 1980-an disini mereka membangun satra alternatif dimana para pengarang mecoba membebaskan sastra sebagai simbol dari masyarakat,sastra yang ingin berdiri sendiri sebagai sistem tandingan. Sastra ini timbul akibat pengarang merasa adanya sesuatu dalam masyarakat yang tidak koheren antara sistem sosial dan sistem nilai dan selanjutnya pengarang mewakili anggota masyarakat yang terasingkan dalam proses teknologisasi.
Ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, diselingi istilah-istilah ilmiah, dan menganalisa perkembangan budaya dan masyarakat Indonesia dengan perspektif semiotik membuat para pembaca tertarik untuk membaca buku ini. Pasti melalui buku ini kita akan banyak lebih mengerti tentang perjalanan sejarah sastra Indonesia sejak 1920-an dari awalnya sastra simtomatik,beranjak menjadi sastra diagnostik tahun 1930-an lalu sastra dialektik pada tahun 1960-an sampai pada akhirnya sastra menjadi otonom sebagai sastra alternatif 1980-an,ternyata arah sastra berubah dari yang sebelumnya (1920-an) ada dalam sistem sosial berubah pada tahun 1980-an menjadi sistem tersendiri yang otonom.


Peresensi :        Febry Satya Wibawa


 

SEKIAN.

THANKS.

SALAM JANCUKERS.

Jumat, 16 Maret 2012

PERSEPSI "Ngawur Karena Benar"

Hallo Kicauersku :) :) :)

Akhirnya weekend yang saya tunggu datang juga ya,walaupun Sabtu Minggu pasti tidak berasa berlalu begitu saja deh kayanya,saya doakan semua diberikan kesehatan ya,agar selalu dapat melakukan aktivitas seperti biasa.

Oh iyaa saya hari ini dapat hadir di acara Islamic Book Fair (IBF)  yang seperti biasa tempatnya di Istana Olahraga (disingkat ISTORA) Senayan,Jakarta Selatan.Saya datang ke IBF ditemani pacar saya.Kalau niat saya ya ingin mengantar dia,kalau niat Pacar saya mungkin diantar saya kali yah? (ga mutu banged yah niatnya)
Langsung to the point yah,

"Berani Karena Benar" itu biasa sudah tak spesial lagi,sekarang yang lg nge-trend adalah "Ngawur Karena benar"

Itu anagium apa yah?penulisnya gila apa yah?emang ada yang bilang begitu?

Jadi,

Ada yang tau Sudjiwo Tedjo?Presiden Jancukers?pernah nonton Indonesia Lawyes Club?

Jujur niat utama saya datang ke IBF hari ini untuk menghadiri acara bedah buku "Ngawur Karena Benar" karya Sudjiwo Tedjo (Mbah Tedjo) budayawan edan atau Dalang gaul yang gila tweet.Nah salah satu anagium yang saya kutip di atas merupakan tulisan budayawan edan yang hobinya ngetweet itu.

Saya sempat terlambat 15 menit hadir di panggung utama ISTORA yang ternyata Mbah Tedjo sudah nyocot dari tadi.

Dalam hati sempat kecewa,tapi apa daya tangan tak sampai.Maaf kalau tulisan saya (ikut-ikutan) ngawur.Setelah beberapa lama mengikuti sesi tanya jawab itu ternyata konsep Ngawur yang terlintas dipikiran mayoritas pengunjung yang datang tidak serumit bahkan lebih rumit dari Rumus Phytagoras tergantung pengunjung memaknainya memakai IQ? atau tidak.

Mbah Tedjo yang bergaya urakan (lebih urakan dari pejabat-pejabat pemerintahan itu) tetapi tidak kurang ajar.Urakan berbeda dengan kurang ngajar,Bedannya urakan itu melanggar aturan termasuk aturan berpikir untuk mengikuti hati nurani,Maka kurang ngajar melanggar aturan hanya demi melanggar,

Mulai menjelaskan Ngawurisme ala Mbah Tedjo menurutnya "Jurus-jurus terakhir kita setelah mentok pada jurus-jurus lain yang konon sistematis,santun,dan berbudi pekerti ternyata di balik kedok tertata,sopan dan bertata krama itu merupakan kepalsuan"

Yang lucu katanya "Negara kita (Indonesia) katanya negara Kelautan (Maritim) tetapi yang dibangun kok Jembatan Suramadu,bukan memperbanyak kapal dan dermaga,Kalau bisa pemerintah khususnya Dirjen Laut itu jejerin kapal-kapal di sepanjang pantai utara jawa jadi kita bisa jalan kaki ngelangkahin kapal-kapal itu" kata Mbah Tedjo yang terkenal sebagai Presiden Jancukers itu.

ya sangat menarik saya bisa ikut bedah buku mbah Tedjo,saya pun ikut membeli buku yang baru terbit itu dan ditambah tanda tangan sang Presiden Jancukers,yang saya dengar Budayawan Edan itu akan menulis buku lagi yang berjudul "Dalang Gaul Gila nge-Tweet"

SEKIAN

THANKS KICAUERS,

SAYA FEBRY.

SALAM JANCUKERS.